Pernah dimuat pada harian Radar Banjarmasin/ Selasa, 10 Juni 2008 dan harian Barito Post/ Rabu, 18 Juni 2008
Alangkah beruntung sebuah kota yang disebut dalam sebuah puisi. Kota itu menjadi dikenal, bahkan terkenal, selain selalu dikenang oleh orang yang menyenangi puisi itu. Ingat larik ’’Tanjung Perak tepi laut,’’ syair ’’Selamat tinggal Teluk Bayur permai,’’ atau lagu “Kotabaru gunungnya bamega”, yang membuat ketiga tempat itu bukan hanya berada di ujung lidah, tetapi juga berada pada salah satu sudut jantung.
Sebuah kota atau tempat yang disebut dalam bait lagu atau puisi seperti menjadi sangat layak untuk dikunjungi, bahkan mengundang keinginan untuk datang ke sana.
“Roma atau Paris. Indah Kandangan Kotaku Manis”. Demikian sebagian dari bait syair tokoh sastra Kandangan di era tahun 1960-an, almarhum Darmansyah Zauhidi. Jika saja tidak berlebihan, berani saya katakan, untuk lingkup Kalsel siapakah yang tidak mengenal Kandangan. Sebuah kota yang usianya mungkin tertua di wilayah hulu sungai.
Selain itu, Kandangan dikenal sebagai ibu dari cikal bakal berdirinya kabupaten di kawasan banua enam, sampai ada istilah Kandangan “Boston”nya Kalsel. Karena itu gerakannya tidak segesit zaman perjuangan. Sehingga terkesan kalah gesit dengan adik-adiknya seperti kota Tanjung, Barabai, Amuntai, Balangan atau Tanah Bumbu (maaf bukan membanding-bandingkan).



