Archive for June 2, 2008

Menyentil Hikmah dari Film “Kun Fayakuun”

Setelah film Ayat-Ayat Cinta (AAC) ditonton kalangan petinggi negeri ini, giliran film “Kun Fayakuun” arahan sutradara Guntur Novaris “diserbu” sejumlah petinggi negara. Setidaknya tiga menteri dalam jajaran Kabinet Indonesia Bersatu hadir dalam penayangan perdana film yang diproduseri Ustadz Yusuf Mansyur di jaringan bioskop 21 Jakarta.

Mereka adalah Menteri Negara Pemuda dan Olahraga Adhyaksa Dault, Menteri Kominfo Muhammad Nuh dan Menteri Kehutanan MS Kaban. Namun ketiga menteri menonton pada pemutaran yang berbeda.
Adhyaksa Dault mengatakan kehadirannya dalam acara pemutaran film tersebut sebagai bentuk dukungannya terhadap kehadiran film-film yang memberikan pencerahan. Di tengah kondisi seperti ini, lanjutnya, masyarakat harus disuguhi film-film yang bisa mencerahkan.”Ceritanya sederhana dan pesannya sampai. Film ini mengasah kepekaan kita dan membangun rasa kepedulian terhadap mereka yang dhuafa,” katanya.

“Apa pun yang menjadi kehendak Allah, maka terjadilah”. Kalimat cukup singkat itu mungkin dapat mewakili esensi dari film “Kun Fayakuun” karya Ustadz Yusuf Mansur. Terdorong dari keinginannya untuk mengembangkan dakwah melalui media film, ustadz muda ini akhirnya berhasil merilis bagian pertama film trilogi bertema Islami.

Read the rest of this entry »

Leave a Comment

Heroisme Sampah (Quo Vadis Gerakan Moral Mahasiswa)

Belakangan demonstrasi dan aksi unjuk rasa yang dilakukan mahasiswa di sejumlah daerah di Indonesia kian tidak cerdas dan tidak bermutu. Mereka hanya menjadi pahlwan palsu, yang mengira bahwa dirinya sedang menjadi pembela rakyat.

Sejak dibentangkannya babak baru demokrasi, bukan cerita baru jika demonstrasi menjadi pemandangan jamak sehari-hari di negeri ini. Berbagai lapisan masyarakat mulai dari mahasiswa, buruh, petani, dan bahkan para guru kerap menjadikan aksi demonstrasi sebagai pilihan untuk menyuarakan aspirasi yang hendak disampaikan.

Terutama bagi kalangan mahasiswa, atau lebih tepatnya gerakan mahasiswa, demonstrasi layaknya menjadi agenda penting yang “wajib” dilakukan. Meskipun kadang tak jelas benar apa yang hendak disampaikan, atau masalah apa dan siapa yang harus didemonstrasi, terpenting bagi mereka adalah turun ke jalanan, berorasi, dan bertingkah bak “hero” bagi masyarakat yang tertindas, miskin dan termarjinalisasi.

Benarkah mereka menjadi pahlawan? Rasanya perlu ditimbang ulang. Sebab setiap kali demonstrasi digelar, naskah orasi dibacakan, spanduk dan poster dibentangkan, dan ban bekas dibakar, kesemuanya hanya menjadi aktivitas yang mengganggu kepentingan umum, meresahkan warga, dan bahkan menebar teror sebab masyrakat dibuat takut, jangan-jangan berakhir bentrokan atau kerusuhan.

Read the rest of this entry »

Comments (1)