Archive for April 29, 2008

Cinta, Kuasa dan Kekuasaan

BANYAK orang berkata dan meyakini bahwa dirinya mencintai orang lain. Pecinta mengatakan bahwa dirinya mencintai kekasihnya. Suami mengatakan bahwa ia mencintai istrinya. Guru-guru mengatakan bahwa mereka mencintai murid-muridnya. Para orangtua mengatakan bahwa mereka mencintai anak-anaknya. Dan negara juga mengatakan bahwa ia sangat mencintai rakyatnya.

Sampai sekarang, kita tidak tahu apa arti sesungguhnya dari kata cinta dan mencintai. Para filsuf menafsirkan dan menjelaskannya dengan berbelit-belit, yang justru membuat kita kebingungan. Maka tidak heran jika kemudian setiap orang memilih untuk menafsirkan sendiri kata tersebut. Dengan cara itu, setia orang punya penafsiran sendiri tentang cinta, tanpa harus terkungkung oleh logosentrisme definisi cinta yang dibuat oleh mereka kaum intelektual.

Dari common-sense masyarakat, cinta dapat dipahami sebagai sebuah rasa perhatian dan kasih sayang terhadap yang lain. Cinta adalah pancaran perdamaian, persahabatan, keakraban, kepedulian terhadap sesama. Dari pemahaman yang sederhana dan simplistis ini, cinta dapat dimasukkan dalam kerangka pembentukan peradaban yang manusiawi, peradaban yang menjamin hak untuk mencintai dan dicintai, memperhatikan dan diperhatikan, mempedulikan dan dipedulikan.

Read the rest of this entry »

Comments (4)

Pilkada HSS, Rakyat Jangan Asal Coblos

Pernah dimuat pada Surat Pembaca harian Mata Banua, Senin/ 28 April 2008

SUDAH banyak terjadi pilkada di berbagai daerah tidak berjalan mulus. Protes, demo sampai aksi anarkis. Apakah itu semua senilai dengan biaya dari demokrasi yang harus dibayar mahal dengan banyaknya pengorbanan dana APBD, waktu dan kekisruhan hingga menganggu keamanan, ketenangan, kenyamanan beraaktivitas atau rasa kekeluargaan dan persaudaraan antarwarga.

Jika diamati, kekisruhan lebih banyak dipengaruhi turut campurnya para tokoh atau elit tim sukses salah satu pasangan calon. Harapannya selama elite mematuhi aturan main dan lebih mementingkan kondisi kerakyatan, maka pilkada akan demokratis. Sejauh manapun pilkada kelihatannya tidak akan berjalan mulus, kecuali ada daerah yang sudah 80 persen dikuasai para simpatisan dan pendukung pasangan calon. Masalahnya jika ada dua bakal calon yang akan maju ke arena perebutan kursi, tentunya para pendukung mereka mencoba menarik simpati warga untuk turut mendukung partai tersebut.

Read the rest of this entry »

Leave a Comment