Archive for April 21, 2008

Kartini yang Merenggut “Kelelakian”ku

Assalamu’alaikum Umi Shalihah…

Salam Aku haturkan buat menyapa hati Umi yang luhur. Semoga Umi senantiasa bersedia untuk bersama harungi derita yang datang, bersatu kita tempuh nikmat yang bertandang. Guratan takdir kita memang sudah seperti ini, hendak bilang apalagi. Sungguh tak pantas memang bila ada yang kita sesali, karena Aku yakin di balik semua kejadian tentu akan ada hikmahnya, dan selalu yang terbaiklah yang Allah sediakan bagi makhluk-makhluknya.

Aku hanya seorang suami yang berusaha dengan sangat, untuk menerima segala ketentuan Allah Sang Pemilik Qudrat dan Iradat. Menerima setulus hati dihadirkannya Engkau sebagai seorang isteri. Akan berusaha sepenuh hati Aku penuhi semua janji yang terpatri di masa yang telah lalu.

Mahligai perkawinan kita memang dihujani coba dan derita. Tapi biarlah semua itu kita rasakan dengan penuh “sahaja”. Rupanya kebahagiaan rumah tangga itu sangat tinggi maharnya.

Read the rest of this entry »

Comments (11)

Kartini, Marista atau Sukacita?

Bulan April. Bulan emansipasi wanita, katanya. Karena Ibu kita Kartini lahir sebagai pelopor perjuangan kaum perempuan untuk melepaskan belenggu dari adat istiadat yang merendahkan. Beliau dielu-elukan sebagai pemerdeka kaumnya. Hari lahirnya yang diperingati setiap tahun dengan acara berpakaian Jawa ala beliau dahulu, seakan-akan dengan bertingkah sedemikian rupa sudah berarti menghargai jasa-jasanya. Merdeka seperti apa yang diinginkan Kartini?

Merdeka. Bebas. Lepas. Kosakata ajaib yang jadi idaman banyak orang di dunia. Tidak terkecuali kaum perempuan Indonesia. Dengan tameng kebebasan inilah akhirnya para perempuan ini menuntut persamaan hak dengan laki-laki. Mereka yang dulu merasa terjajah dengan dominasi kaum lelaki ini, ingin bebas dan lepas. Kebanyakan dari mereka tak lagi mau diatur-atur baik oleh ayah, apalagi suami. Mereka berusaha memperjuangkan hak menentukan nasib sendiri, katanya.

Maka bermunculanlah di ruang publik perempuan-perempuan yang mengatas-namakan kebebasan dan emansipasi. Tidak lagi profesi sebagai guru, perawat, insinyur, profesor hingga astronot yang dirambah tapi juga profesi sebagai artis sinetron, bintang film, foto model, peragawati, hingga (maaf) pelacur. Yang terakhir ini terjadi pemanipulasian makna istilah sehingga kedudukannya disetarakan dengan pekerja yang lain semacam kantoran dan buruh. Sebutan yang dulu memakai istilah tuna susila sekarang diubah dan disamarkan menjadi PSK alias Pekerja Seks Komersial.

Read the rest of this entry »

Comments (2)

Sensasi Pilkada HSS, Pilih Pemimpin Sejati

Pernah dimuat pada harian Barito Post, Senin/ 21 April 2008

Sensasi Pilkada HSS sudah terasa dari hari-hari kemarin dan akan lebih mengharubiru lagi pada hari-hari mendatang, sensasi ini meskipun sesaat sampai terpilihnya Bupati HSS, tapi adalah momentum dari penyempurnaan demokrasi dimana untuk pertama kalinya rakyat HSS akan memilih Bupati dan Wakil Bupati secara langsung.

Pilkada bertujuan memilih orang yang akan menjalankan dan memimpin kebijakan politik daerah. Kali ini adalah yang pertama kali rakyat HSS akan menentukan berbagai kemungkinan nasibnya ke depan.

Republik Indonesia, yang berdaulat sebagaimana diamanatkan dalam Undang-undang adalah suatu negara hukum yang demokratis dan berbentuk kesatuan. Dalam konteks wilayah Kabupaten, maka kedaulatan rakyat ini dititipkan kepada Bupati dan Wakil Bupati yang terpilih. Kedalaman makna memilih ini adalah bahwa memilih bukanlah suatu kewajiban yang ditimpakan kepada rakyat, melainkan hak rakyat sendiri, hak ikut serta menentukan nasib sendiri sebagai warga. yang merdeka dan berdaulat. Dengan hak itu, rakyat ikut serta memikul tanggung jawab tentang baik atau buruk nasib Kandangan ke depan.

Read the rest of this entry »

Leave a Comment