Film “Ayat-Ayat Cinta” jadi fenomena baru di jagat industri film nasional. Bagaimana tidak, film tersebut ditonton sekitar 3 juta orang hanya dalam waktu kurang dari sebulan. Kalau diukur dari prestasi minat penonton, mungkin ssaja itu angka statistik yang bisa dibatidakan. Meski demikian, pro-kontra terhadap film tersebut juga marak. Terutama dalam diskusi-diskusi di internet.
Ada yang protes karena isinya beda dengan novel, ada pula yang “ngamuk-ngamuk” di blog pribadinya gara-gara ada bagian adegan yang tampaknya dihilangkan agar tak memicu polemik agama, ada juga yang melihatnya dari sisi syariah. Meski begitu, ada juga bagian film itu yang benar. Misalnya menolak pacaran, menyampaikan syariat poligami, menyampaikan kasih-sayang sessama manusia, membudayakan sabar dan ikhlas. Bagus juga sih. Meski demikian, kita tetap harus jeli, karena ajaran Islam tentu tidak sesederhana itu. Jika tujuannya menyampaikan dakwah dan mencerdaskan kaum muslimin, seharusnya bisa berani menyampaikan Islam apa adanya, semuanya, tanpa ditutup-tutupi demi menjaga toleransi.









