Hidup memang pilihan. Tetapi kehidupan di negeri ini orang harus menerima kenyataan tanpa ada pilihan. Kecuali harus menerima yang harus diterima atau mati. Begitu barang kali terjadi pada Sutrisno. Sedari kecil bercita cita menjadi Pejabat tinggi dan akhirnya terdampar sebagai guru honorer. Tahulah kalian bagaimana kehidupan seorang guru honorer. Soal penghasilan tidak lebih baik dari upah minimum regular buruh pabrik. Tapi apa hendak dikata? Beginilah nasib profesi guru yang memang bukan profesi terhormat sebagaimana profesi lainnya, Sutrisno membatin.
Awalnya ada perasaan tidak adil bagi dirinya. Ketika dia harus menerima kenyataan sebagai guru. Ketika semua pintu instansi menutup diri untuk menerimanya berkarir setelah menamat pendidikan diperguruan tinggi. Namun, setelah menjalani professi ini diapun bermetamorfosa menjadi lebah. Ya Lebah. Yang selalu bergiat berkerja dengan motivasi tinggi tanpa ada yang memerintah. Tanpa ada yang memberikan iming-iming bonus. Diapun tidak tahu bila awalnya dia menjadi lebah. Tapi yang pasti adalah semakin dia resapi peran yang dia mainkan sebagai tenaga pendidik semakin dia menemukan kepuasaan. Puas karena dia mampu memberi dan membuka cakrawala anak manusia untuk menjadi “manusia seutuhnya”. Batinnya menjadi kaya bila tahun berganti tahun semakin banyak muridnya yang berhasil lulus dengan senyum bahagia untuk memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Read the rest of this entry »







